oleh

Bagindo Togar Butar Butar Pengamat Politik Sumsel: Aksi FORMASA Jabodetabek Seolah-olah Pertarungan Politik lokal di PALI Belum Berakhir

PALI — Pengamat Politik yang juga Forum Demokrasi Sriwijaya, Bagindo Togar Butar Butar, mengatakan, aksi tersebut seolah-olah pertarungan politik di PALI belum berakhir.

“Baru saja usai PSU 21 April yang lalu, dimana hasilnya memperkuat posisi kemenangan Paslon Bupati nomor urut 02, H Heri Amalindo-H Soemarjono atas kompetiternya DHDS no urut 01, ada sekelompok mahasiswa asal sumatera selatan melakukan aksi didepan Gedung KPK di Jakarta. Aksi itu menyoroti tentang dugaan rekayasa dan praktek korupsi suatu proyek di Kabupaten PALI. Atas berlansungnya Aksi tersebut, seolah olah “pertarungan” memperebut kepemimpinan pemerintahan di daerah itu belum berakhir,” ujar Bagindo, Jum’at (07/05/21) pada awak media.


Bagindo berpendapat, dapat dimaklumi, bila publik berasumsi atau seolah-olah bahwa aksi tersebut adalah suatu pesanan.

“Wajar kalau publik berasumsi seolah-olah aksi itu suatu pesanan oknum tak bertanggungjawab Alias terkesan belum legowo total menerima kegagalan,” sindir Bagindo.

Lanjutnya, pada dasarnya gerakan atau aksi perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah, apalagi bila dilakukan oleh para kaum muda terpelajar, sebagai representasi sikap kritis mereka mengawasi proses pembangunan di negeri ini.

“Tetapi kecerdasan memilih momentum, issue dan tujuan gerakan butuh kajian multi variabel juga persepsi yang komprehensif, serta objektif. Sehingga, jelas terukur capaian dan efektif maksud maupun tujuan aksi tersebut. Artinya gerakan kritis bukan ditumpangi oleh ekspresi ketidakpuasan pribadi atau kelompok yang bermuatan interest politik sesaat,” paparnya.

Di sisi lain, perlu juga diapresiasi adanya sekelompok anak muda yang berbeda melakukan upaya pencerahan terhadap pelaku aksi beberapa hari yang lalu itu, agar lebih mengutamakan rasionalitas, serta kesadaran kolektif demi kontinuitas, juga akselerasi pembangunan di Kabupaten PALI.

“Tentu saja semua perihal di atas bisa dimaklumi, yang merupakan respon sosial unit masyarakat yang peduli akan keberlansungan pemerintahan yang berkomitmen merumuskan program pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan para warganya.

“Bukankah itu wujud dinamika yang pantas untuk diappresiasi oleh elite pemerintahan daerah berikut jajarannya. Apalagi kualitas plus equitas kepemimpinan yang partisipatif dan demokratis selalu mampu menghargai sikap kritis masyarakat yang diayominya. Dimana, kelak kemajuan, keberadaan dan kemanfaatan realisasi pembangunan kedepan di Kabupaten PALI semakin merata dirasakan rakyatnya,”pungkasnya. (*****)


Komentar