Smartizen – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Muara Enim memperketat pengawasan peredaran antibiotik di apotek sebagai langkah strategis mencegah munculnya bakteri kebal obat atau antimicrobial resistance (AMR) yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat dalam jangka panjang.
Kepala Dinkes Muara Enim, dr. Eni Zatila, menegaskan bahwa kebiasaan masyarakat membeli antibiotik tanpa resep dokter merupakan salah satu faktor utama meningkatnya risiko resistensi obat. Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menyebabkan penyakit infeksi menjadi lebih sulit disembuhkan.
“Antibiotik bukan obat biasa. Jika digunakan tidak sesuai dosis, aturan, dan indikasi medis, dampaknya bukan hanya ke pasien saat ini, tetapi juga ke masyarakat luas di masa depan,” ujar dr. Eni, Minggu (8/2/2026).
Menurutnya, resistensi antimikroba dapat membuat antibiotik yang selama ini efektif menjadi tidak lagi mempan, sehingga pasien membutuhkan pengobatan lebih lama, biaya lebih besar, bahkan berisiko menimbulkan komplikasi serius.
Sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, Bupati Muara Enim H. Edison telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 440/2718/DINKES-I/X/2025 tentang Pengendalian Resistensi Antimikroba tertanggal 1 Oktober 2025. Kebijakan ini menjadi payung hukum bagi penguatan pengawasan penggunaan antibiotik di wilayah Muara Enim.
“Ini bukan semata-mata pembatasan, tapi bentuk perlindungan. Kabupaten Muara Enim ingin memastikan masyarakat mendapatkan obat yang tepat, aman, dan bertanggung jawab,” jelas dr. Eni.
Selain pengawasan di apotek dan fasilitas kesehatan, Dinkes Muara Enim juga aktif melakukan pelatihan bagi tenaga kesehatan agar lebih disiplin dalam pemberian antibiotik sesuai standar medis. Monitoring dan evaluasi penggunaan antimikroba terus dioptimalkan untuk mencegah penyalahgunaan.
Tak hanya menyasar tenaga medis, edukasi kepada masyarakat juga menjadi fokus utama. Kampanye kesehatan dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kesadaran bahwa penggunaan antibiotik harus melalui konsultasi dokter, bukan berdasarkan kebiasaan atau saran non-medis.
“Harapan kami, masyarakat semakin paham bahwa antibiotik bukan solusi instan untuk semua penyakit. Dengan penggunaan yang bijak, kita bersama-sama mencegah ancaman resistensi obat di masa depan,” pungkasnya.(aep)
